Page 1 of 7 (41 total stories) [ 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | > | >> ]  

Dikirim oleh nobermani pada Monday, 07 September 2020 (24 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

(Makassar/Juli 2020) Program jaring Pengaman Sosial yang di keluarkan oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial Republik Indonesia di tujukan kepada Keluaraga Miskin dan Rentan Miskin yang terdampak oleh COVID-19 dan di salurkan oleh PT. POS Indonesia di seluruh wilayah Nusantara

 Read More...

Topik: Berita
Dikirim oleh bbppksmakassar pada Friday, 22 May 2020 (223 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

Makassar 22/05/2020. Bantuan Sosial Tunai (BST) dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Sosial RI yang merupakan salah satu bentuk Jaring pengaman sosial yang diberikan kepada Keluarga miskin dan rentan miskin akibat pandemi COVID-19 yang akan disalurkan 3 tahap / bulan yakni pada bulan mei, juni dan juli tahun 2020

 Read More...

Topik: Berita
Dikirim oleh nobermani pada Monday, 30 March 2020 (268 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis
RELEVANSI PEKERJAAN SOSIAL TERHADAP PEMERLU PELAYANAN KESEJAHTERAAN SOSIAL PEKERJA ANAK
A.Jeneta Putri, S.ST (PPNPN BBPPKS MAKASSAR)
Hp: 08114346239
 
 
ABSTRAK
Masalah Pekerja anak di Indonesia pada saat ini sungguh memprihatinkan, jumlah pekerja anak di berbagai daerah di Indonesia terus meningkat. Kondisi ini menimbulkan suatu permasalahan yang serius bagi pemerintah Indonesia. Dalam artikel ini, membahas mengenai kondisi secara umum mengenai pekerja anak serta faktor-faktor yang menyebabkan seorang anak menjadi pekerja anak. Selain itu, mengetahui definisi pekerja anak serta permasalahan yang dihadapi pekerja anak. Masalah pekerja anak ini sangat berkaitan dengan salah satu profesi yang akan membantu dalam proses kasus-kasus pada pekerja anak terutama mengenai permasalahan yang dihadapi pekerja anak. Salah satu profesi tersebut adalah pekerjaan sosial, dimana peran dari pekerja sosial sangat dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan permasalahan pekerja anak. Peran pekerja sosial tersebut diantaranya adalah sebagai advokator, konselor, pendamping, dan mediator. Selain pekerja sosial, peran dan upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi dan menghapus pekerja anak terus dilakukan, upaya-upaya pemerintah Indonesia dibuktikan dengan menjalin kerjasama dengan ILO. Hal tersebut bertujuan agar anak-anak di dunia khususnya di Indonesia dapat hidup dengan sejahtera dan sesuai dengan proses tumbuh dan kembangnya.
 
PENDAHULUAN
Masalah pekerja anak di Indonesia mulai dibicarakan sejak awal tahun 1990-an ketika media mulai mengungkap kasus-kasus perlakuan buruk terhadap pekerja anak. Pekerja anak adalah anak-anak yang harus terjun ke dunia kerja sebelum mencapai usia legal untuk bekerja sehingga hak-hak dasar mereka terampas. Beberapa bentuk hak dasar tersebut antara lain adalah hak kebebasan untuk memilih dan jaminan untuk tumbuh kembang secara utuh baik fisik maupun mental, termasuk hak untuk bersekolah. Indonesia sendiri mematok batas usia minimum untuk diperbolehkan bekerja di semua sektor adalah 15 tahun. Batas usia yang tidak boleh kurang dari usia usai wajib belajar ini, ditetapkan oleh oleh Undang-undang (UU) No. 20 Tahun 1999 yang mengacu pada Konvensi ILO No. 138 mengenai Usia Minimum untuk diperbolehkan bekerja. Selain mengembalikan hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan pekerja anak ini tentunya membawa dampak kepada aspek psikososialnya dimana si anak ini bekerja bukan pada waktu yang tepat yang tentunya akan menghambat proses tumbuh kembangnya dan tidak sesuai dengan tugas perkembangan di usianya. Hal ini merupakan bentuk penyimpangan dimana seharusnya anak-anak tersebut sedang mengenyam bangku pendidikan dan dalam kondisi keceriaan namun pada kenyataannya sebagain anak di Indonesia malah bekerja untuk kehidupannya. Selain itu, lingkungan tempat anak bekerja juga dapat mempengaruhi kehidupan anak tersebut serta dari faktor keluarga yang ikut mempengaruhi anak. Untuk itu, diperlukan suatu perlindungan terhadap anak-anak yang bekerja atau kebijakan yang tegas agar tidak ada lagi pekerja anak.
Data mencatat proporsi pekerja anak pada 2017 sebesar 1,5 persen dari total populasi anak sebesar 84,4 juta jiwa. Mereka tak mengenyam bangku sekolah sama sekali. Lama bekerja pun beragam, mulai dari satu jam hingga 97 jam seminggu. Sebanyak 1,5 persen pekerja anak dari total populasi anak itu, jumlahnya setara 1,2 juta anak. Berbeda dengan kondisi di perdesaan, mayoritas di perkotaan mereka bekerja di sektor perdagangan (23 persen) dan industri pengolahan di pabrik (22,3 persen).
Para pekerja anak ini masuk dalam klasifikasi International Labour Organization (ILO) sebagai buruh anak yang tak bersekolah dan pekerjaannya berpotensi mengganggu pertumbuhan mental, fisik, serta sosial. Pekerja anak kategori ini yang perlu diminimalisir keberadannya. Konvensi ILO yang telah diratifikasi menjadi UU Nomor 20 Tahun 1999 menyebutkan pekerjaan ringan hanya boleh dilakukan pekerja berusia 16 tahun ke atas sementara batas usia pekerja anak yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral yakni 18 tahun. Terlepas dari kategori tersebut, ada pula anak yang bekerja membantu orang tua tetapi masih mengenyam pendidikan, yakni berkisar 629 ribu anak per Maret 2017. Anak kategori ini dibolehkan ILO untuk tetap mencari keterampilandi luar sekolah yang dinilai dapat mengembangkan diri.
Masalah pekerja anak ini sangat berkaitan dengan salah satu profesi yang akan membantu dalam proses kasus-kasus pada pekerja anak terutama mengenai permasalahan yang dihadapi pekerja anak. Salah satu profesi tersebut adalah pekerjaan sosial, dimana peran dari pekerja sosial sangat dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan permasalahan pekerja anak. Peran pekerja sosial tersebut diantaranya adalah sebagai advokator, konselor, pendamping, dan mediator. Selain pekerja sosial, peran dan upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi dan menghapus pekerja anak terus dilakukan, upaya-upaya pemerintah Indonesia dibuktikan dengan menjalin kerjasama dengan ILO.
 Read More...

Topik: Berita
Dikirim oleh nobermani pada Tuesday, 17 March 2020 (240 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM USAHA TANI DI DESA BULUSIRUA, KECAMATAN BONTOCANI, KABUPATEN BONE

  
Musdaliva, S.Sos, M.Si (Calon Widyaiswara Ahli Pertama)
BBPPKS Makassar
HP: 08114448392
 
ABSTRAK
             Pandangaan bahwa peran laki-laki adalah peran produktif di sektor publik dan peran perempuan adalah peran reproduktif di sektor domestik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis partisipasi perempuan dalam pengelolaan usaha tani di Desa Bulusirua, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara mendalam, observasi tidak turut serta, kajian kepustakaan, dan dokumentasi. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara purposive sampling. Informan dalam penelitian ini adalah 5 orang perempuan atau keluarga yang pekerjaan pokoknya adalah petani dan ikut terlibat dalam kegiatan usaha tani bersama suaminya, serta telah menikah minimal 4 tahun. Teknik analisis data terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teknik analisis komponensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan ikut berpartisipasi dalam semua tahap pengelolaan usaha tani, yaitu mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemupukan, perawatan, panen, pengolahan pasca panen, penjualan, penyimpanan hasil penjualan, dan pemanfaatan hasil penjualan. Disimpulkan bahwa perempuan berpartisipasi dalam semua tahap pengelolaan usaha tani dan dominan pada tahap pembibitan, panen, pengolahan pasca panen, penjualan, penyimpanan, dan pemanfaatan hasil penjualan.
 
Kata kunci: partisipasi, , perempuan, usaha tani

PENDAHULUAN

               Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia dan Women Support Project II/CIDA, 2001 (dalam Nugroho, 2011) menyebutkan bahwa “Istilah ‘gender’ pertama kali diperkenalkan oleh Robert Stoller (1968) untuk memisahkan pencirian manusia yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya dengan pendefinisian yang berasal dari ciri-ciri fisik biologis. Dalam ilmu sosial orang yang juga sangat berjasa dalam mengembangkan istilah dan pengertian gender ini adalah Ann Oakley (1972). Sebagaimana Stoller, Oakley mengartikan gender sebagai konstruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia “ (Nugroho, 2011: 2-3).

“Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam peran, perilaku, mentalitas, dan karakter emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Dengan demikian gender merupakan harapan-harapan budaya (cultural expectations for women and men) terhadap laki-laki dan perempuan. Konsep gender secara mendasar berbeda dengan jenis kelamin biologis. Jenis kelamin biologis; laki-laki atau perempuan merupakan faktor yang sifatnya kodrati (pemberian dari Tuhan), sedangkan jalan yang menjadikan seorang memiliki sifat feminitas dan maskulinitas adalah gabungan antara faktor biologis dan interpretasi biologis oleh kultur sosial” (Sulaeman dan Homzah, 2010: 2-3).

Penelitian Hutajulu (2015) yang dimuat pada Jurnal Social Economic of Agriculture menunjukkan bahwa “perempuan disamping sebagai ibu rumah tangga pada keluarga berbasis petani di Desa Rasau Jaya I, juga terlibat cukup banyak dalam mengelola ekonomi pertanian yang dikelola keluarga” (Hutajulu, 2015:89).

Pandangan bahwa peran laki-laki  adalah peran produktif di sektor publik untuk mencari nafkah bagi keluarganya dan peran perempuan adalah peran reproduktif di sektor domestik untuk mengurus rumah tangga. Kondisi ini berbeda dengan keluarga petani di Desa Bulusirua, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone. Pengelolaan usaha tani tidak hanya dikerjakan oleh laki-laki tetapi perempuan juga ikut terlibat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis partisipasi perempuan dalam pengelolaan usaha tani di Desa Bulusirua, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone.

 Read More...

Topik: Berita
Dikirim oleh nobermani pada Monday, 02 March 2020 (2771 kali dibaca)

Mariani, Sos., M.Si

Widyaiswara Muda

Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial Makassar

email: mariani.gunawan@gmail.com

 A.        Pendahuluan

           Sebagai mahluk sosial, manusia memang tidak mungkin hidup sendiri tanpa ada orang lain bersamanya, apakah itu dalam keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, di kantor dan sebagainya. Dari hari pertama dilahirkan, kita sudah merupakan bagian dari kelompok yang dikenal sebagai keluarga, kita tidak mungkin dapat bertahan hidup pada menit-menit pertama tanpa bantuan dari kelompok (keluarga), dan melalui keluarga ini pula kita mulai belajar bagaimana harus bersosialisasi, yang mana nantinya merupakan dasar dari pola tingkah laku dan pola berpikir serta mendidik kita agar mempunyai perspektif tertentu terhadap diri sendiri dan dunia luar/lingkungan. baik formal maupun informal, serta dalam kelompok-kelompok ini interaksi kita dengan orang lain dalam kelompok tidak dapat terhindarkan.

           Adanya keterbatasan dalam diri kita yang harus ditutupi dengan kehadiran orang lain, namun terkadang kebutuhan akan orang lain lebih disebabkan karena adanya persamaan akan tujuan maupun motif yang ingin dicapai. Hal ini yang menyebabkan kita berupaya untuk membangun suatu ikatan yang dapat menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi.

            Dinamika kelompok sebenarnya adalah bagian dari ilmu pengetahuan sosial yang lebih menekankan perhatiannya pada interaksi manusia dalam kelompok yang kecil. Pada berbagai referensi, istilah dinamika kelompok ini disebut juga dengan proses-proses kelompok (group processes). Jelas dari terminologi ini bahwa pengertian dari dinamika kelompok ataupun proses kelompok ini menggambarkan semua hal atau proses yang terjadi dalam kelompok akibat adanya interaksi individu-individu yang ada dalam kelompok itu.

           Berdasarkan hal diatas, maka adanya suatu tindakan untuk membangun suatu perkumpulan yang sering kita kenal dengan nama kelompok. Kelompok merupakan suatu unit yang didalamnya terdapat individu-individu yang memiliki kesamaan tujuan/maksud yang ingin dicapai. Melalui kelompok, maka setiap individu yang ada didalamnya akan mengembangkan kemampuan yang dimiliki didalam pencapaian akan tujuan. Oleh karena itu, kelompok memiliki peranan yang besar didalam pencapaian akan tujuan-tujuan tersebut. 

            Kelompok hadir karena adanya kebutuhan akan pencapaian tujuan secara bersama. Oleh karena itu, dinamika kelompok hadir dalam rangka menjawab beberapa hal dibawah ini seperti setiap individu tidak mungkin hidup sendiri dalam masyarakat, dimanapun berada, Individu tidak mungkin bekerja sendiri di dalam menjalani hidupnya.

 

 Read More...

Topik:
Dikirim oleh bbppksmakassar pada Friday, 28 February 2020 (371 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis
Oleh : Nandang Sofyan, S.Pd.,M.Pd
Calon Widyaiswara di BBPPKS Makassar

 

Abstrak

Pengertian anak Berdasarkan undang-undang dan yang dipaparkan oleh para ahli yaitu bakal calon manusia atau janin manusia dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, belum mandiri, bergantung kepada kedua orang tuanya yang dibatasi oleh usia dan pernikahan, Pertumbuhan dan Perkembangan Anak dan hak anak merupakan hal penting dalam membangun dan memajukan bangsa hal ini dikarenakan anak merupakan penerus bangsa dan negara. Artikel ini membahas tentang pengertian anak, pertumbuhan dan perkembangan anak, dan hak-hak anak.

Kata Kunci : Anak, Pertumbuhan, Perkembangan, Hak

 

 Read More...



Page 1 of 7 (41 total stories) [ 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | > | >> ]  

Translate

Translation

Syndicate News




·301 Moved Permanently



·Page not found:



·301 Moved Permanently



·Page not found:



·404 Not Found



·301 Moved Permanently



·Page not found:



·Page not found:



·Page not found:



·PERESMIAN SEKOLAH DI..
·PERESMIAN SEKOLAH DI..
·TERAPI KELOMPOK PENE..



·Page not found:



·Page not found:



·
·
·Sosialisasi Program ..



·301 Moved Permanently



·KUNJUNGAN DIRJEN KE ..
·
·KUNJUNGAN JICA



·Page not found:



·Page not found:



·Press Gathering
·Pelepasan Purnabakti..
·Presentasi Hasil Pra..



·Perpustakaan Provins..
·Penerima Manfaat BRS..
·63 (ENAM PULUH TIGA)..



·TIMELINE AKTIVITAS B..
·TIMELINE SEMESTER I ..
·ROADMAP PSBR MENUJU ..



·Mari Bersama Mencega..
·Widyawisata dan Term..
·Bimbingan hidup berm..



·KEGIATAN OUT BOND BA..
·HUT RI ke 71 di PSBR..
·PERINGATAN HARI ANAK..



·PENUTUPAN BIMBINGAN ..
·KUNJUNGAN KE MUSEUM..
·BIMBINGAN KEWIRAUSAH..



·301 Moved Permanently



·Kunjungan Kerja Ment..
·Outbound, Upaya dala..
·Pembukaan Pekan Orie..



·Page not found:



·Tahukah Anda tentang..
·Pusat Penanganan Tra..
·Upacara Kesadaran Na..



·Belajar Online di Ru..
·BBRVPD DORONG KABUPA..
·PENGUATAN PROGRES PE..



·Pemberian Piagam Kep..
·HARI SUMPAH PEMUDA
·Fashion Show



·301 Moved Permanently



·Maksimalkan Komunika..
·PEMETAAN SOSIAL, SEB..
·Kunjungan Menteri So..



·301 Moved Permanently



·Program World Friend..
·Kunjungan Penasehat ..
·Pembukaan Program Pe..



·Sosialisasi HIV/AIDS..
·Program Kemandirian ..
·Kreasi Kerajinan Tan..



·Bermain Bersama Anak..
·MENATA ANAK INDONESI..
·Home Visit: Tahapan ..



·Page not found:

View All Feeds

Survei

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan situs ini?

Sangat Baik
Baik
Biasa saja
Kurang Baik
Jelek



Hasil
Polling

Pemilih: 41
Komentar: 0

Tag

Kalender Kegiatan

<< September 2020 >>

S M T W T F S
    12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930     

Top 10 Download

;