HINGGA KINI PROSTITUSI MASIH MARAK (BAGIAN 4 (pembahasan akhir) )

Dipublikasi pada Wednesday, 20 January 2016 oleh bbppksmakassar
BBPPKS MAKASSAR menulis 

OLEH : IRMANSYAH, S.ST., M.Si

WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REGIONAL SULAWESI

 

Reaksi Sosial

            Kenyataan membuktikan, bahwa semakin ditekan pelacuran, maka semakin luas menyebar prostitusi tersebut. Sikap reaktif dari masyarakat luas attau reaksi sosialnya bergantung pada empat faktor, yaitu :

a.    Derajat penampakan /visibilitas tingkah laku

b.     Besarnya pengaruh yang mendemoralisasi lingkungan sekitarnya

c.     Kronis tidaknya kompleks tersebut menjadi sumber penyakit kotor syphilis dangonorrhe, dan penyebab terjadinya abortus serta kematian bayi-bayi

d.    Pola kultural: adat-istiadat, norma-norma susila dan agama yang menentang pelacuran, yang sifatnya represif dan memaksakan

 Reaksi sosial itu bisa bersifat menolak sama sekali dan mengutuk keras serta memberikan hukuman berat sampai pada sikap netral, masa bodoh dan acuh tak acuh serta menerima dengan baik.

Apabila deviasi atau penyimpangan tingkah laku berlangsung terus-menerus dan jumlah pelacuran menjadi semakin banyak menjadi kelompok-kelompok deviant dengan tingkah lakunya yang menyolok, maka terjadilah perubahan pada sikap dan organisasi masyarakat terhadap prostitusi. Tingkah laku seksual immoral yang semula dianggap noda bagi kehidupan normal dan mengganggu system yang sudah ada, mulai diterima sebagai gejala yang wajar. Yang semula ditolak umum, kemudian diintegrasikan menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat, demikian pula halnya dengan gejala pelacuran ini.

      Fungsi dan Partisipasi Para Pelacur

Prostitusi juga mempunyai fungsinya, yaitu menjadi sumber eksploitasi bagi kelompok-kelompok tertentu. Khususnya, mereka itu juga memberikan partisipasi sosial dan ekonomi.

Partisipasi Sosial

            Kuarang lebih 30% dari para pelacur – terutama dari kelas menengah dan kelas tinggi mempunyai pekerjaan sebagai kedok penutup. Pada umumnya, mereka itu membenci pekerjaan atau malas bekerja. Mereka memberikanjasanya dalam bentuk pelayanan seks dan hiburan pengisi waktu kosong kepada kaum laki-laki iseng. Banyak pula pelacur yang cantik-cantik dan inteligen dipakai sebagai alat pelancar dalam dunia bisnis, politik, dan spionase.

            Pelacur-pelacur kelas menengah dan kelas tinggi banyak yang kawin. Mereka itu kurang promiscuous, karena selalu memilih langganan-langganan yang berduit banyak, biasanya pelayanannya merupakan all night date (berkencan semalam suntuk). Ada pula yang dijadikan gundik atau istri piaraan oleh satu atau dua orang pejabat penting, pedagang kaya atau politikus terkenal. Biasanya mereka disimpan di daerah-daerah suburban atau di daerah peristirahatan dengan mendapatkan rumah mewah, lengkap dengan perabot dan mobil, serta uang bulanan yang tinggi.

Partisipasi ekonomi

 Tidak sedikit sumbangan keuangan yang diberikan para pelacur itu kepada macam-macam pihak. Khususnya, para mucikari atau madam-madam/mami-mami mendapatkan kira-kira 1/3-1/2 dari hasil bersih para pelacur. Pihak-pihak lain yang ikut mendapatkan keuntungan ekonomis dari para pelacur antara lain ialah pengemudi-pengemudi taksi dan tukang-tukang becak, dokter, dan mantra-mantri kesehatan, para penegak hukum, polisi, aborsionis,pedagang-pedagang pakaian,pemilik-pemilik hotel, pengusaha pusat-pusat hiburan, penjual alat-alat kontraseptif, dukun-dukun bayi, dan lain-lainnya.

Juga, tidak kecil artinya dana sumbangan yang diberikan oleh para wanita tunasusila itu kepada : gereja, usaha-usaha social, panti werda, panti asuhan yatim piatu, yayasan rehabilitasi orang cacat jasmani dan dana-dana pembangunan dalam bentuk iuran memasuki daerah lampu merah.

      Penyesuian Diri/Adjusment dan Maladjusment

                  Pelacuran itu merupakan bentuk penyimpangan sosio-psikologis; yaitu penyimpangan disebabkan faktor-faktor sosial dan faktor-faktor psikologis. Tingkah laku immoral dari pelacuran itu terutama sekali ditampilkan oleh simptom-simptom instabilitas jiwanya. Keengganannya bekerja itu identik dengan kemalasan yang abnormal, ketidak acuhan dan “ndableg” tanpa perasaan susila pada dirinya, bisa disamakan dengan gejala schizophrenia atau oligofrenia.

                  Sikap umum para pelacur yang muda-muda biasanya sadar dan merasa malu terhadap pekerjaan yang immoral itu. Khusunya perasaan demikian ada pada gadis-gadis uang masih baru, belum lama melakukan pekerjaan pelacuran, yaitu dengan pengalaman-pengalaman inisiasi prostitusi. Akan tetapi, sekali mereka sudah terjun dalam profesi prostitusi, maka segeralah berlangsung proses disosialisasi dan rasionalisasi yang mengalahkan semua pertimbangan rasional dan larangan hati nurani dan menundukkan segenap pertentangan/konflik batin. Pekerjaan melacurkan diri itu pada akhirnya menjadi pola kebiasaan, tanpa perasaan, tanpa afeksi, bahkan hamper-hampir tidak disadari lagi wanita yang bersangkutan secara total bisa menyesuiakan diri pada pekerjaan yang baru.

Marginal pada prostitusi.

            Sekitar usia 30 tahun itulah banyak timbul konflik pada diri para pelacur. Bila pekerjaan  memperdagangkan seks itu dilanjutkan, maka badan pasti sudah tidak kuat lagi, dan kecantikan sudah mulai memudar, sehingga penghasilan pun menjadi sangat berkurang, sehingga mutlak perlu mereka itu berhenti bekerja dan melalui hidup yang bersih. Sebaliknya, apabila pekerjaan itu dihentikan, maka dirinya dihantui oleh bayangan kemiskinan, kelaparan dan penderitaan. Terjadilah konflik-konflik batin yang serius, sehingga tidak jarang menjelma menjadi gangguan mental. Mereka itulah yang dimasukkan dalam kelompok prostitusi marginal.

           Selanjutnya, jenis wanita-wanita yang pandai bercumbu rayu dan menggaet laki-laki berduit untuk menguras saku dan kekayaannya, nemun tidak bersedia melakukan hubungan seks, sangat dibenci oleh para pelacur dan anggota-anggota masyarakat pada umumnya. Wanita-wanita demikianlah sebagai “lintah-lintah penyadap darah” yang tidak pernah kenyang, melengket terus-menerus pada tubuh korbannya.

           Gejala khas yang sangat menyolok pada pelacur-pelacur umumnya ialah : mereka itu cepat tua dan layu. Adapun sebab-sebabnya ialah sebagai berikut :

a.       Mempunyai kebiasaan-kebiasaan buruk

b.       Badan menjadi lemah dan lemas, Karena bekerja lewat batas

c.       Bergaul dengan banyak laki-laki kasar sehingga badannya dimanipulasi serta diremas-remas dengan kasr, dan dieksploisasi dengan hebat

d.      Sering , mendapat penyakit kotor dan terkena infeksi parah, serta beberapa kali mengalami keguguran

e.  Banyak minum obat-obatan untuk menjaga kesehatan dan minum-minuman keras sehingga tidak sedikit dari mereka itu menjadi amndul tidak bisa punya anak.

f.   Setelah energinya banyak terkuras dan kecantikannya mulai melayu, kemampuan seksualnya juga berkurang. Maka penghasilannya juga menjadi semakin menyusut

g.  Pada usia-usia yang kritis yaitu kurang lebih 30 tahun, terjadi banyak konflik jiwa yang sangat melelahkan lahir-batinnya. Yaitu konflik antara konsepsi diri sebagai prostitusi dan meneruskan profesi pelacuran, melawan kebutuhan untuk berhenti dan memperbaiki cara hidupnya

Banyak wanita tunasusila yang inteligen pada usia kritis ini lalu beralih pekerjaannya dengan jalan memilih pekerjaan yang lebih ringan. Maka sangat malanglah nasib wanita- wanita bekas pelacur itu apabila mereka tidak memiliki tabungan atau modal di hari-hari menjelang tua.

      Penanggulangan Prostitusi

 Pada garis besarnya, usaha untuk mengatasi masalah tunasusila ini dapat dibagi menjadi dua, Yaitu :

a.       Usaha yang bersifat preventif

b.      Tindakan yang bersifat represif dan kuratif

 Usaha yang bersifat preventif diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan untuk mencegah terjadinya pelacuran. Usaha ini antara lain berupa :

1)    Penyempurnaan perundang-undangan mengenai larangan atau penyelenggaraan pelacuran

2)     Intensifikasi pemberian pendidikan keagamaan dan kerohanian

3)    Menciptakan bermacam-macam kesibukan dan kesempatan rekreasi

4)    Memperluas lapangan kerja bagi kaum wanita, disesuaikan dengan kodrat dan bakatnya

5)    Penyelenggaraan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga

6)    Pembentukan badan atau tim koordinasi dari semua usaha penanggulangan pelacuran yang dilakukan oleh beberapa instansi sekaligus mengikutsertakan potensi masyarakat lokal

7)    Penyitaan terhadap buku-buku dan majalah-majalah cabul, gambar-gambar porno, film-film biru serta sarana-sarana lainnya yang merangsang nafsu seks

8)    Meningkatkan kesejahteraan rakyat pada umumnya

Sedangkan, usaha yang represif dan kuratif dimaksudkan sebagai kegiatan untuk menekan (menghapuskan, menindas) dan usaha menyembuhkan para wanita dari ketunasusilaan untuk kemudian membawa mereka ke jalan yang benar. Usaha represif dan kuratif ini antara lain berupa :

a)  Melalui lokalisasi yang sering ditafsirkan sebagai legalisasi, orang melakukan pengawasan/kontrol yang ketat.

b)  Diusahakan melalui aktivitas rehabilitas dan resosialisasi, agar mereka bisa dikembalikan sebagai warga masyarakat yang susila

c)    Penyempurnaan tempat-tempat penampungan bagi para wanita tunasusila yang terkena razia

d)     Pemberian suntikan dan pengobatan pada interval waktu tetap

e)    Menyediakan lapangan kerja baru

f)  Mengadakan pendekatan terhadap pihak keluarga para pelacur dan masyarakat asal mereka mau menerima kembali bekas-bekas wanita tunasusila itu

g)    Mencari pasangan hidup yang permanen/suami bagi para wanita tunasusila

h) Mengikutsertakan ex-WTS (bekas wanita tuna susila) dalam usaha transmigrasi dalam rangka pemerataan penduduk di tanah air, dan perluasan kesempatan kerja bagi kaum wanita.

 

 

PENUTUP

 Kesimpulan

            Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1.    Pelacuran yang merajalela sampai saat ini berkaitan dengan prostitusi, dimanaprostitusi ialah gejala kemasyarakatan di mana wanita atau pria menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencaharian.

2.     Ada banyak motif yang melatarbelakangi kegiatan pelacuran,misalnya dilakukan secara sadar karena tekanan ekonomi, dijebak teman atau germo,ataupun akibat kelainan seks pada diri sang pelacur dan disorganisasi kehidupan keluarga/broken home.

3.    Akibat – akibat dari pelacuran tersebut adalah maraknya penyakit menular seksual,penyakit seks seperti HIV/AIDS yang merupakan fenomena gunung es,merusak sendi-sendi moral, susila hukum,dan agama,berkorelasi dengan dunia narkotika dan kriminalitas, dan merusak kehidupan generasi bangsa,karena pelacuran juga banyak dilakukan kalangan muda/generasi penerus bangsa.

4.    Kenyataan membuktikan bahwa semakin ditekan pelacuran, maka semakin luas menyebar prostitusi tersebut akibat jumlah pelacur semakin banyak dengan tingkah laku yang menyolok sehingga terjadi perubahan sikap dan kebudayaan dari masyarakat terhadap prostitusi,stigma atau noda sosial dan eksploitasi-komersialisasi seks yang semula dikutuk menjadi diterima sebagai gejala sosial yang umum.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

        August Burns, dkk. 2000. Pemberdayaan Wanita dalam Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Yayasan Essentia  Medica.

Kartono, Kartini. 2007. Patologi Sosial. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Soedjono, D. 1974. Patologi Sosial. Bandung : Alumni Bandung.