HINGGA KINI PROSTITUSI MASIH MARAK (BAGIAN 2)

Dipublikasi pada Thursday, 15 October 2015 oleh bbppksmakassar
BBPPKS MAKASSAR menulis 

OLEH : IRMANSYAH, S.ST., M.Si

WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REGIONAL SULAWESI

Seks Bebas, Cinta Bebas, dan Pelacuran

             Hampir semua masyarakat beradap berpendapat bahwa perlu adanya regulasi atau pengaturan terhadap penyelenggaraan hubungan seks dengan peraturan-peraturan tertentu. Sebab, dorongan seks itu begitu dahsyat dan besar pengaruhnya terhadap manusia, bagaikan nyala api yang berkobar. Demikian pula seks, bisa membangun kepribadian, akan tetapi juga bisa menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan. Hal ini dibuktikan oleh sejarah peradaban manusia sepanjang zaman. 

              Variasi dari regulasi penyelenggaraan seks bisa kita lihat tradisi-tradisi seksual pada bangsa-bangsa primitif di bagian-bagian dunia kita yang berbeda-beda. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan serta komunikasi, terjadilah banyak perubahan sosial yang serba cepat pada hampir semua kebudayaan manusia. Perubahan sosial tersebut mempengaruhi kebiasaan hidup manusia sekaligus juga mempengaruhi pola-pola seks yang konvensional. Maka, pelaksanaan seks itu banyak dipengaruhi oleh penyebab dari perubahan sosial, antara lain oleh urbanisasi, mekanisasi, alat kontrasepsi, lamanya pendidikan, demokratisasi fungsi wanita dalam masyarakat, dan modernisasi. Sebagai efek sampingnya terjadi proses ontrailing (keluar dari rel) dari pola-pola seks, yaitu keluar dari jalur-jalur konvesional kebudayaan. Pola seks itu lalu dibuat menjadi hypermodern dan radikal sehingga bertentangan dengan sistem regulasi seks yang konvensional, menjadi seks bebas dan cinta bebas yang tidak adanya bedanya dengan pelacuran. Pada hakikatnya, dalam eksesivitas (sangat banyak) seks bebas itu sama dengan promiskuitas atau campur aduk seksual tanpa aturan alias pelacuran.

           Oleh seks bebas, hal tersebut bukannya akan diperoleh kepuasan seks. Oleh eksesivitas itu jutru orang tidak mampu menghayati kepuasan seks sejati. Sebab, orang menjadi budak dari dorongan seksual, menjadi pecandu seks tanpa bisa menghayati arti dan keindahan kehidupan erotik sejati.

           Beberapa argumen dari para penganjur seks bebas beserta peyanggahannya kami kemukakan di bawah ini :

1)    Dorongan seks itu alami, persis seperti lapar dan dahaga. Pemuasannya bersifat alami atau natural. Maka, tabu-tabu dan regulasi seks itu sifatnya artifisial, dibuat-buat, dan berlebihan, atau tidak perlu.

Para opponen/ penyanggah pendapat ini justru berikiran sebagai berikut : memang benar pada mulanya berifat fisiologis dan alami, sebagai produk dari kegiatan ganduler. Namun kemudian, segi-segi psikis dari seks ikut muncul, berupa imaginasi seks yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan glanduler. Artinya, dorongan-dorongan seks itu lalu bersifat artifisial, bukan alami lagi, sebab semakin banyak terdapat stimuli/ perangsang seks dalam masyarakat modern sekarang. Misalnya berupa film-film biru, gambar-gambar dan majalah porno, pertunjukan seks dan lain-lain. Sehingga muncul perbuatan seks yang sangat ditolak masyarakat, misalnya dalam bentuk perkosaan, ekshibisionisme seksual, promiskuitas terbuka, dan lain-lain. Karena itu, perlu diadakan sanksi dan kontrol sosial  terhadap kehidupan seks, demi menjamin ketentraman dan ketertiban hidup.

Baik suku-suku bangsa primitif maupun yang modern pasti mempunyai sistem regulasi untuk menata kelancaran masyarakat, dan mengatur kehidupan-kehidupan seks. Penataan itu ada masyarakat dan mengatur kehidupan seks. Penataan itu ada ditulis dalam wujud hukum dan undang-undang, yang lainnya tidak tertulis berupa tradisi dan kebiasaan sosial. Maka mutlak perlulah dorongan-dorongan seks itu dikendalikan dan diatur, agar tidak terlalu kelewat eksesif, sehingga melemahkan jasmani dan rohani.

2)  Argumen kedua menyatakan seks itu merembesi setiap fase kehidupan. Karena itu, kebebasan seks harus dapat diekspresikan dengan bebas penuh, untuk memperkaya kepribadian. Maka, setiap restriksi atau pembatasan terhadap kegiatan seks itu pasti akan menghambat pembentukan kepribadian.

Opponen pendapat ini menyatakan sebagai berikut : memang benar, seks itu merembesi setiap fase kehidupan. Akan tetapi, seperti juga makan dan minum harus diatur. Agar orang bisa menjadi sehat lahir dan batin, makan aktivitas seks itu juga harus dikendalikan dan diatur demi kesejahteraan sendiri. Dorongan seks itu semisal kuda liar yang bisa buas binal tidak terkuasai, tapi bisa juga menjadi jinak terkendali. Dalam hal dorongan seks ini, sais utama mengendalikan kuda liar itu ialah kemauan dan akal budi. Sedang hukum dan tradisi berfungsi sebagai pengontrolan umum.

3)   Alasan ketiga untuk menganjurkan seks bebas ialah sebagai berikut : tabu-tabu seks itu merupakan produk dari dogmatisme religius, yang menganggap seks sebagai sumber dosa dan noda yang menimbulkan rasa malu dan bukan sebagai sumber kenikmatan. Lalu orang membuat macam-macam restriksi terhadapa aktivitas seks. Dengan sendirinya hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip kebebasan ilmiah di bidang fisiologi, psikologi, dan sosiologi.

Pihak oposisi dari teori ini menyatakan sebagai berikut : memang benar standar-standar seks itu banyak mendasarkan diri pada doktrin teologis kuno. Bahkan, beberapa aliran agama menyebutkan, wanita sebagai sumber pertama dari dosa dan noda. Konsep seks demikian ditolak oleh kebanyakan wanita dan orang modern. Akan tetapi, ilmu pengethuan sudah sejak lama berpendirian bahwa seks itu bisa dijadikan sumber kebahagiaan manusia. Jika kebutuhan-kebutuhan seks itu tidak terpenuhi secara wajar akan muncul banyak frustasi dan gangguan mental.

Sehubungan dengan itu, perlu diciptakan restriksi dan regulasi agar seks bisa diintegrasikan secara harmonis dalam totalitas kehidupan yang sehat. Tidak boleh awut-awutan/ acak-acakan seperti praktik pelacuran. Muncullah kemudian program keluarga berencana agar kaum ibu tidak dibebani terlalu berat oleh banyak anak.

4)   Alasan keempat orang menganjurkan seks bebas ialah sebagai berikut : kegiatan seks itu masalah private, menyangkut diri pribadi dengan partnernya. Maka masyarakat sama sekali tidak berhak mencampuri urusan ini. Parapenganjur seks bebas menolak dengan sangat prinsip kontrol sosial terhadap aktivitas seks. Tidak perlulah segala restriksi dan regulasi terhadap impuls-impuls seks. Karena impuls seks itu bobot dan nilainya sama dengan impuls-impuls vital lain. Misalkan, sama dengan impuls lapar sehingga orang diizinkan makan apapun jika dia sudah kelaparan. Lebih-lebih pemerintah tidak berhak mengurusi dan ikut campur dalam masalah seks ini, terkecuali jika wanita yang bersangkutan sampai menjadi hamil atau melahirkan bayi.

Pihak opponen menyangkalnya sebagai berikut : tingkah laku seks yang wajar itu tidak mungkin bersifat murni prive atau individual. Sebab, tingkah laku seks itu merupakan produk dari sikap hidup/ attitude kelompok masyarakat tertentu. Maka, kegiatan seks yang bersifat indvidual merpakan fase atau bagian dar proses sosial. Selanjutnya, perkembangan pribadi banyak ditentkan oleh sehat tidaknya relasi seks yang dilakukan seseorang daam kehidupan sehari-hari dengan partnernya.

5)     Akhirnya, para propagandis seks bebas bersitegang bahwa perkawinan dan semua undang-undang perkawinan dan perceraian itu cuma mengakibatkan kompulsi-kompulsi/ paksaan psikologis yang mengakibatkan kegagalan dan kegoncangan dalam kontak pribadi dengan partnernya. Maka, jika ada kebebasan seks yang komplit, dimana kedua partner bisa berpindah jika sudah tidak saling membutuhkan lalu bebas mencari partner lain yang lebih cocok maka peristiwa demikian bisa lebih menjamin kokohnya monogami (mono = satu, gameoo = partner). Karena itu kontak yang sempurna tidak mungkin bisa berlangsung tanpa adanya kebebasan yang sempurna, tanpa kebebasan sebebas-bebasnya. Sebab, cinta itu tidak bisa dipaksakan dengan undang-undang dan restriksi-restriksi. Karenanya, union tanpa perkawinan pasti akan lebih berhasil dan lebih efisien  dari persatuan/ union dengan perkawinan.

Kaum opponen menyanggah dengan argumentasi/ alasan sebagai berikut : memang benar ada teralu banyak kompulsi dalam perkawinan. Hal ini tidak disebabkan oleh perkawinan itu sendiri, akan tetapi oleh banyaknya perceraian dan udang-undang perceraian. Nyatanya, ikatan perkawinan itu akan menjamin kestabilan  bila dilindungi oleh udang-undang perkawinan-perceraian yang lebih mantap atau yang lebih baik. Ketentraman, sukses, dan harmoni perkawinan akan lebih terjamin bila disertai sanksi dengan regulasi.

Tanpa perkawinan, union akan sangat rapuh, kedua partner akan mudah berpisah misalnya pada saat-saat marah da gelo. Ikatan temporer tanpa perkawinan pasti menipiskan tnggung jawab dan mengakibatkan sangat goyahnya solidaritas dan kesetiaan, juga mengakibatkan pengingkaran pada kewajiban-kewajiban tertentu. Union yang temporer akan mengantisipasi pola kawin-cerai atau pola hidup-bersama-bercerai yang berkali-kali. Lalu mengakibatkan anarki seks dan disorganisasi.

Kenyataan membuktikan bahwa seks bebas dan cinta bebas mengakibatkan banyak kerusaan/ destruksi di kalangan orang-orang muda, baik pria maupun wanita. Seandainya pemuasan seks itu bisa dimisalkan dengan segelas air, dimana orang bisa memuaskan rasa dahaganya (akibat kebutuhan seks) maka dapatkah dibenarkan orang tersebut minum segelas air comberan yang kotor untuk memuaskan kehausannya? Atau minum segelas air dengan jalan merampas milik orang lain?

Dalam kehidupan ini segala sesuatu sudah diatur oleh irama dan regulasi alam. Maka seyogyanya cinta dan seks itupun harus diatur oleh kontrol diri dan disiplin diri. Hanya dengan cara demikian manusia bisa mencapai kebahagiaan dan menikmati vitalitasnya, lalu mencapai keseimbangan hidup dan kepuasan yang merupakan dua atribut esensiil bagi kehidupan.

Dengan adanya regulasi terhadap seks, bisa ditegakkan sendi-sendi moral. Dan melalui perkawinan bisa dicapai kestabilan serta kebahagiaan hidup berkeluarga. Seks bebas, promiskuitas, pelacuran, dan kekacauan seksual pasti menjadi penyebab bagi anarki hidup dan bertentangan dengan etiki ataa/kesusilaan serta ketertiban masyarakat. Seks bebas, union temporer, dan pelacuran merupakan fenomena atau gejala-gejala hidup yang jorok atau slording, acak-acakan, yang anarhtis atau mengacau.

Memang banyak pelacur, pria, dan wanita yang berpendirian sebagai berikut : “Saya mau jatuh cinta jika saya mendekatinya dan mengakhirinya kapan saja jika saya menghendakinya. Cinta harus bebas, tanpa ikatan, bebas sebebasnya, dan akan saya jalin dengan siapapun juga.” Pendirian semacam ini adalah pendirian promiskuous, tak berdaya dengan pendirian prostitusi yang menumbuhkan sikap sangat labil bahkan tanpa pendirian, tanpa tanggung jawab. Menyebabkan munculnya sikap semau-gue dan liar, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kedewasaan. Lebih-lebih, sikap demikian tidak bisa ditoleransi sama sekali pada diri wanita sebagai penerus generasi muda dan pendidik. Karena itu, prosmikuitas dan pelacuran tidak mungkin bisa membahagiakan manusia, sebaliknya banyak menimbulkan malapetaka, kedukaan, penyakit kotor, dan kesengsaraan.

          Ciri-ciri dan Fungsi Pelacuran

Di desa-desa, hampir tidak terdapat pelacur. Jika ada, maka mereka itu adalah pendatang-pendatang dari kota yang singgah untuk beberapa hari atau pulang ke desanya. Juga desa perbatasan yang dekat dengan kota-kota dan tempat-tempat sepanjang jalan yang besar yang dilalui truk-truk dan kendaraan umum sering dijadikan sebagai lokasi oleh wanita-wanita tunasusila. Sedangkan di kota-kota besar, jumlah pelacur diperkirakan 1-2% dari jumlah penduduknya. Dalam bilangan ini sudah termasuk para prostitue yang tersamar atau gelap, dari kelas menengah dan kelas tinggi yang sifatnya noprofesinalisme (amateurisme). Mereka itu beroperasi secara sembunyi-sembunyi, baik secara individual maupun tergabung dalam satu sindikat-sindikat amourette yang berdagang seks cinta asmara.

Banyaknya langganan yang dilayani wanita tunasusila adalah 5-50 orang dalam jangka wratu 12-24 jam. Bahkan, di waktu-waktu perang dan masa-masa kisruh, mereka itu mampu melayani 6-120 orang langganan dalam waktu yang sama. Pelacur-pelacur ini bisa digolongkan menjadi dua kategori, yaitu :

a.    Mereka yang melakukan profesinya dengan sadar dan suka rela berdasarkan motivasi-motivasi tertentu.

b.    Mereka yang melakukan tugas melacur karena ditawarkan/ dijebak dan dipaksa oleh germo-germo yang terdiri atas penjahat-penjahat, calo-calo, anggota-anggot organisasi gelap penjual wanita, dan pengusaha bordil. Dengan bujukan dan rayu-rayu manis, ratusan bahkan ribuan gadis-gadis cantik dipikat dengan janji akan mendapatkan pekerjaan terhormat dengan gaji besar. Namun, pada akhirnya mereka dijebloskan ke dalam rumah-rumah pelacuran yang dijaga dengan ketat, secara paksa, kejam, sadistis, dengan pukulan dan hantaman mereka harus melayani buaya-buaya seks yang tidak berperikemanusiaan. Jika para gadis itu tampak ragu-ragu atau enggan melakukan relasi seks, maka mereka itu dihajar dengan pukulan-pukulan dan diberi obat-obat perangsang nafsu seks sehingga mereka menjadi tidak sadar dan tidak berdaya. Dan di bawah pengaruh obat-obatan itu, mereka dipaksa melakukan adegan-adegan porno/ cabul yang seram (namun menghancurkan hati anak-anak gadis tersebut) dengan bandit-bandit seks.

 Ciri-ciri khas dari pelacur adalah sebagai berikut :

1)    Wanita, lawan pelacur ialah gigolo (pelacur pria, lonte laki-laki)

2)    Cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif menarik, baik wajah maupun tubuhnya. Bisa merangsang selera seks kaum pria.

3)    Masih muda, 75% dari jumlah pelacur di kota-kota ada di bawah 30 tahun. Yang terbanyak adalah 17-25 tahun. Pelacur kelas rendahan dan menengah acap kali memperkerjakan gadis-gadis pra-puber beruisa 11-15 tahun, yang ditawarkan sebagai barang baru.

4)     Pakaiaanya sangat menyolok, beraneka wara, sering aneh-aneh/eksentrik untuk menarik perhatian kaum pria. Mereka itu sangat memperhatikan penampilan lahiriahnya, yaitu : wajah, rambut, pakaian, alat-alat kosmetik, dan parfum yang merangsang.

5)    Menggunakan teknik-teknik seksual yang mekanistis, cepat, tidak hadir secara psikis, tanpa emosi atau afeksi, tidak pernah bisa mencapai orgasme sangat provokatif dalam ber-coitus, dan biasanya dilakukannya secara kasar.

6)    Bersifat sangat mobil, kerap berpindah dari tempat/ kota yang satu ke tempat/kota lainnya. Biasanya, mereka itu memakai nama samaran dan sering berganti nama, juga berasal dari tempat atau kota lain, bukan kotanya sendiri agar tidak dikenal oleh banyak orang. Khususnya banyak terdapat migran-migran dari daerah pedesaan yang gersang dan miskin yang pindah ke kota-kota, mengikuti arus urbanisasi.

7)    Pelacur-pelacur profesional dari kelas rendah dan menengah kebanyakan berasal dari strata ekonomi dan strata sosial rendah. Mereka pada umumnya tidak mempunyai keterampilan/ skill khusus, dan kurang pendidikannya. Modalnya adalah kecantikan dan kemudaannya. Pelacur amateur, di samping bekerja sebagai buruh di pabrik, restoran, bar, toko-toko sebagai pelayan dan di perusahaan-perusahaan sebagai sekretaris, mereka menyempatkan diri beroperasi sebagai pelacur tunggal atau sebagai wanita panggilan.

 Sedangkan pelacur dar kelas tinggi (high class prostitue) pada umumnya berpendidikan

 sekolah lanjutan pertama dan atas, atau lepasan akademi dan perguruan tinggi, yang

 beroperasi secara amatir atau secara profesional. Mereka itu bertingkah laku immoril

 karena didorong oleh motivasi-motivasi sosial dan/ atau ekonomis.

8) 60-80% dari jumlah pelacur ini memiliki intelek yang normal. Kurang dari 5% adalah mereka yang lemah ingatan (feeble minded). Selebihnya adalah mereka yang ada pada garis batas, yang tidak menent atau tidak jelas derajat inteligensinya.

Pada umumnya, para langganan dari pelacur itu tidak dianggap berdosa atau bersalah, tidak immoril, atau tidak menyimpang. Sebab perbuatan mereka itu didorong untuk memuaskan kebutuhan seks yang vital. Yang dianggap immoril hanya pelacurnya. Namun, bagaimanapun rendahnya kedudukan sosial pelacur karena tugasnya memberikan pelayanan seks kepada kaum laki-laki, ada pula fungsi pelacuran yang positif sifatnya di tengah masyarakat, yaitu sebagai berikut :

a)    Menjadi sumber pelancar dalam dunia bisnis.

b)     Menjadi sumber kesenangan bagi kaum politisi yang harus hidup berpisah dengan istri dan keluarganya. Juga dijadikan alat untuk mencapai tujuan-tujuan politik tertentu.

c)     Menjadi sumber hiburan bagi kelompok dan individu mempunyai jabatan/ pekerjaan mobil, misalnya : pedagang, sopir-sopir pengemudi, anggota tentara, pelaut, polisi, buaya-buaya seks, playboy, pria-pria yang single tidak kawin atau yang baru bercerai, laki-laki iseng dan kesepian, mahasiswa, anak-anak remaja dan adolesens yang ingin tahu, suami-suami yang tidak puas dirumah, para olahragawan yang tengah di tatar di pusat latihan, pegawai negeri yang belum sempat memboyong keluarganya di tempat kerja, pengikut-pengikut kongres, seminar, rapat kerja, musyawarah nasional, dan seterusnya.

d)    Menjadi sumber pelayanan dan hiburan bagi orang-orang cacat, misalnya, pria yang buruk wajah, pincang, buntung, abnormal secara seksual, para penjahat (orang kriminal) yang selalu dikejar-kejar polisi, dan lain-lain.

Beberapa Peristiwa Penyebab Timbulnya Pelacuran

Berlangsungnya perubahan-perubahan sosial yang serba cepat dan perkembangan yang tidak sama dalam kebudayaan, mengakibatkan ketidakmampuan banyak individu untuk menyesuaikan diri, mengakibatkan timbulnya disharmoni, konflik-konflik eksternal dan internal, juga disorganisasi dalam masyarakat dan dalam diri pribadi. Peristiwa-peristiwa tersebut memudahkan individu menggunakan pola-pola respon/reaksi yang inkonvensional atau menyimpang dari pola-pola umum yang berlaku. Dalam hal ini ada pola pelacuran, untuk mempertahankan hidup ditengah-tengah hiruk-pikuk alam pembangunan, khususnya di Indonesia.

Beberapa peristiwa sosial penyebab timbulnya pelacuran antara lain sebagai berikut.

a.    Tidak adanya undang-undang yang melarang pelacuran. Juga tidak ada larangan terhadap orang-orang yang melakukan relasi seks sebelum pernikahan atau di luar pernikahan. Yang dilarang dan diancam dengan hukuman ialah: praktik germo (Pasal 296 KUHP) dan mucikari (Pasal 506 KUHP). KUHP 506: Barang siapa yang sebagai mucikari mengambil untung dari perbuatan cabul seorang perempuan, dihukum dengan hukuman kurungan selama-lamanya satu tahun. Namun, dalam praktik sehari-hari, pekerjaan sebagai mucikari ini selalu ditoleransi, secara konvensional dianggap sah ataupun dijadikan sumber pendapatan dan pemerasan yang tidak resmi.

b.    Adanya keinginan dan dorongan manusia untukk menyalurkan kebutuhan seks, khususnya diluar ikatan perkawinan.

c.    Komersialisasi dari seks, baik di pihak wanita maupun germo-germo dan oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan pelayanan seks. Jadi, seks dijadikan alat yang jamak guna (multipurpose) untuk tujuan-tujuan komersialisasi di luar perkawinan.

d.    Dekadensi moral, merosotnya norma-norma susila dan keagamaan pada saat-saat orang mengenyam kesejahteraan hidup; dan ada pemutarbalikan nilai-nilai pernikahan sejati.

e.    Semakin besarnya penghinaan orang terhadap martabat kaum wanita dan harkat manusia.

f.     Kebudayaan eksploitasi pada zaman modern ini, khususnya mengeksploitasi kaum lemah/wanita untuk tujuan-tujuan komersil.

g.    Ekonomi laissez-faire menyebabkan timbulnya sistem harga berdasarkan hukum “jual dan permintaan”, yang diterapkan pula dalam relasi seks.

h.    Peperangan dan masa-masa kacau (dikacaukan oleh gerombolan-gerombolan pemberontak) di dalam negeri meningkatkan jumlah pelacuran.

i.      Adanya proyek-proyek pembangunan dan pembukaan daerah-daerah pertambangan dengan konsentrasi kaum pria, sehingga mengakibatkan adnya ketidakseimbangan rasio dan wanita di daerah-daerah tersebut.

j.      Perkembangan kota-kota, daerah-daerah pelabuhan dan industri yang sangat cepat dan menyerap banyak tenaga buruh serta pegawai pria. Juga peristiwa urbanisasi tanpa adanya jalan keluar untuk mendapatkan kesempatan kerja terkecuali menjadi wanita  P bagi anak-anak gadis.

k.    Bertemunya macam-macam kebudayaan asing dan kebudayaan kebudayaan setempat. Di daerah-daerah perkotaan dan ibukota, mengakibatkan perubahan-perubahan sosial yang cepat dan radikal, sehingga masyarakatnya menjadi sangat instabil. Terjadi banyak konflik dan kurang adanya konsensus/persetujuan mengenai norma-norma kesusilaan diantara para anggota masyarakat. Kondisi sosial jadi terpecah-pecah sedemikian rupa, sehingga timbul satu masyarakat yang tidak bisa diintegrasikan. Terjadilah disorganisasi sosial, sehingga mengakibatkanbreakdown/kepatahan pada kontrol sosia: Tradisi dan norma-norma susila banyak dilanggar. Maka tidak sedikit wanita-wanita muda yang mengalami disorganisasi pribadi, dan secara elementer bertingkah laku semau sendiri memenuhi kebutuhan seks dan kebutuhan hidupnya dengan jalan melacurkan diri.

 

 

click Related        click Rate This        click Share
Topik Terkait

Berita


Pendidikan dan Pengembangan Kesos


Umum
News ©

Translate

Translation

Syndicate News

Survei

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan situs ini?

Sangat Baik
Baik
Biasa saja
Kurang Baik
Jelek



Hasil
Polling

Pemilih: 26
Komentar: 0

Tag

Kalender Kegiatan

<< September 2018 >>

S M T W T F S
            1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30           

Top 10 Download

;