HINGGA KINI PROSTITUSI MASIH MARAK (bagian 1)

Dipublikasi pada Monday, 21 September 2015 oleh bbppksmakassar
BBPPKS MAKASSAR menulis 
 

                              HINGGA KINI PROSTITUSI MASIH MARAK (Bagian 1)

 

                                                   Oleh : IRMANSYAH, S.ST., M.Si
 
                                  WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REG. V SULAWESI
 
          Latar Belakang
Pelacuran atau Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikan.
Prositusi mungkin terasa menyebalkan ketika akan dibahas karena dimasukkan sebagai penyakit masyarakat yang enggan orang membahasnya, terutama di negara kita, mayoritas penduduknya adalah Islam yang ajarannya menentang segala bentuk kemaksiatan termasuk prostitusi. Pada kenyataannya prostitusi menjadi ajang bisnis yang terus berkembang, baik yang praktiknya memang dipusatkan atau dengan sengaja dibuat lokalisasi, maupun prostitusi rumahan dikelola sendiri, yang tersebar di rumah penduduk dalam suatu desa.

 

 

                 Prostitusi biasanya ditawarkan kepada para wanita belia di desa-dea, mereka diiming-imingi untuk mendapatan pekerjaan di kota, biasanya dijanjikan menjadi pembantu rumah tangga, buruh pabrik, pelayan restoran, atau lainnya. Akan tetapi, banyak yang sengaja dijerumuskan oleh calo ke dalam praktik prostitusi, hal ini salah satu penyebabnya adalah pendidikan di desa yang masih rendah, masyarakat desa masih beranggapan bahwa pendidikan bagi wanita bukanlah hal yang penting, karena apabila wanita telah menikah ia akan ikut suami dan kemudian menjadi ibu rumah tangga.

Remaja di desa masih belum banyak yang dapat menentukan pilihannya sendiri. Apabila nantinya terjebak dalam jerat prostitusi ini akan menyudutkan mereka dalam posisi dilematis , terjadi pertarungan antara nalurinya yang pasti tidak mau bercita-cita menjadi PSK, di sisi lain ia mesti mengabdikan dirinya sebagai salah satu penopang keluarga.
Permasalan PSK tidak hanya dilatarbelakangi oleh masyarakat pedesaan yang masih polos sehingga mudah terbujuk rayu calo prostitusi. Zaman yang semakin canggih ini dan bekal ilmu agama yang rendah serta keluarga yang rapuh ikut mendorong berkembangnya praktik prostitusi ini.
Remaja secara disadari maupun tidak dapat terkena imbas dari globalisasi yang negatif, terutama bila tumbuh kembangnya tidak diimbangi dengan perhatian dan bimbingan orang tua. Zaman yang semakin modern seperti tersedianya koneksi internet yang mudah, murah dan gampang diakses, handphone yang berkamera yang banyak disalahgunakan untuk menyimpan dan menyebarkan foto maupun video panas membuat remaja lebih cepat matang secara seksual dan kemudian berusaha mencari penyaluran dengan jalan yang salah.
Dorongan seks yang tinggi dan belum waktunya terutama akibat ransangan dari luar seperti yang telah dijelaskan di atas, kemudian majalah dan situs porno, film biru, terlibat pergaulan bebas, gaya pacaran yang melampaui batas, akan mendukung terhadap terburuknya jalan prostitusi apabila tidak ditangani dengan benar.
Remaja dengan rasa ingin tahunya yang tinggi mulai mencoba mencari tahu, selanjutnya perlahan ia merasa butuh akan penyaluran seks. Apabila kecanduan dan lepas kontrol, ia akan mulai masuk ke dalam dunia prostitusi seperti di Bandung ada istilahGongli atau bagong lieur artinya babi mabuk, merupakan potret buram dari remaja yang marak melakukan seks bebas berdasarkan kepuasan semata.
Di banyak negara pelacuran itu dilarang bahkan dikenakan hukuman. Juga dianggap sebagai perbuatan hina oleh segenap anggota masyarakat. Akan tetapi, sejak adanya masyarakat manusia pertama sehingga dunia ini akan kiamat nanti, “mata pencaharian” pelacuran ini akan tetap ada, sukar, bahkan hampir-hampir tidak mungkin diberantas dari muka bumi, selama masih ada nafsu-nafsu seks yang lepas dari kendali kemauan dan hati-nuranni. Maka timbulnya masalah pelacuran sebagai gejala patologis yaitu sejak adanya penataan relasi seks dan duberlakukannya norma-norma perkawinan.
  
        Definisi Prostitusi dan Promiskuitas
 Profesor W.A Bonger dalam tulisannya Maatschappelijke Oorzaken der Prostitutie menulis defenisi sbb;
Prostitusi ialah gejala kemasyarakatan di mana wanita menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencaharian.
Jelas dinyatakan adanya peristiwa penjualan diri sebagai profesi atau mata pencaharian sehari-hari dengan jalan melakukan relasi-relasi seksual.
Peraturan Pemerintah Daerah DKI Jakarta Raya tahun 1967 mengenai penanggulangan masalah pelacuran, menyatakan sebagai berikut.
Wanita tunasusila adalah wanita yang mempunyai kebiasaan melakukan hubungan kelamin di luar perkawinan, baik dengan imbalan jasa maupun tidak.
Sedang pasal 296 KUHP mengenai prostitusi tersebut meyatakan sebagai berikut :
"Barang siapa yang pekerjaanya atau kebiasaanya, dengan sengaja mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan orang lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya seribu rupiah".
 Jelasnya, pelacuran itu bisa dilakukan baik oleh kaum wanita maupun pria. Jadi, ada persamaan predikat lacur antara laki-laki dan wanita yang bersama-sama melakukan perbuatan hubungan kelamin di luar perkawinan. Dalam hal ini, perbuatan cabul tidak hanya berupa hubungan kelamin di luar nikah saja, akan tetapi termasuk pula peristiwa homoseksual dan permainan seksualnya.
Selanjutnya, defenisi pelacuran dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.  Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola-pola organisasI impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (promiskuitas), disertai eksploitas dan komersialisasi seks yang impersonal tanpa afeksi sifatnya.
b.  Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri (persundalan) dengan jalan menjualbelikan badan, kehormatan, dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran.
c.  Pelacuran ialah perbuatan perempuan atau laki-laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah.
Dengan adanya komersialisasi dan barter seks -- perdagangan tukar-menukar seks dengan benda bernilai – maka pelacuran merupakan profesi yang paling tua sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Dimasukkan dalam kategori pelacuran ini antara lain :
a)    Pergundikan : pemeliharaan bini tidak resmi, bini gelap atau perempuan piaraan. Mereka hidup sebagai suami istri, namun tanpa ikatan perkawinan. Pada zaman belanda disebut nyai.
b)    Tante girang atau loose married woman : wanita yang sudah kawin, namun tetap melakukan hubungan erotik dan seks dengan laki-laki lain baik secara iseng untuk mengisi waktu kosong, bersenang-senang just for fun dan mendapatkan pengalaman-pangalaman seks lain, maupun secara intensional untuk mendapatkan penghasilan.
c)  Gadis-gadis panggilan : gadis-gadis dan wanita-wanita biasa yang menyediakan diri untuk dipanggil dan dipekerjakan sebagai prostitue, melalui saluran-saluran tertentu.
d)  Gadis-gadis bar atau B-girls : gadis-gadis yang bekerja sebagai pelayan-pelayan bar sekaligus bersedia memberikan pelayanan seks kepada para pengunjung.
e) Gadis-gadis juvenile delinguent : gadis-gadis muda dan jahat, yang didorong oleh ketidakmatangan emosinya dan retardasi/keterbelakangan inteleknya, menjadi sangat pasif dan sugestibel sekali. Karakternya sangat lemah. Sebagai akibatnya, mereka mudah sekali jadi pecandu obat-obat bius(gabja, heroin, morfin, dan lain-lain), sehingga mudah tergiur melakukan perbuatan-perbuatan immoril seksual dan pelacuran.
f)    Gadis-gadis binal atau free girls : di Bandung  mereka disebut sebagai “bagong lieur” (babi hutan yang mabuk). Mereka itu adalah gadis-gadis sekolah atau putus sekolah, putus studi di akademi atau fakultas dengan pendirian yang “brengsek” dan menyebarluaskan kebebasan seks secara ekstrem, untuk mendapatkan kepuasan seksual. Mereka menganjurkan seks bebas dan cinta bebas.
g)    Gadis-gadis taxi ( di Indonesia ada juga gadis-gadis becak) : wanita-wanita atau gadis-gadis panggilan yang ditawarkan dibawa ke tempat “plesiran” dengan taxi atan becak.
h) Penggali emas atau gold-diggers : gadis-gadis dan wanita-wanita  cantik –ratu kecantikan,  pramugarimannequin, penyanyi, pemain panggung, bintang film, pemain sandiwara teater atau opera, anak wayang, dan lain-lain – yang pandai merayu dan bermain cinta, untuk mengeduk kekayaan orang-orang yang berduit.
i)   Hostes atau pramuria yang menyemarakkan kehidupan malam dalam nighclub-nighclub. Pada intinya, profesi hostes merupakan benttuk pelacuran halus. Sedang pada hakikatnya, hostes itu adalah predikat baru dari pelacuran. Sebab, di lantai-lantai dansa mereka membiarkan diri dipeluki, diciumi, dan diraba-raba seluruh badannya. Juga di meja-meja minum badannya diraba0raba dan diremas0remas oleh langganannya. Para hostes ini harus melayani makan, minum, dansa, dan memuaskan naluri-naluri seks para langganan dengan jalan menikmati tubuh para hostes/pramuria tersebut. Dengan demikian, langganan bisa menikmati keriaan atau kesenangan suasana tempat-tempat hiburan.
j)     Promiskuitas/promiscuity : hibungan seks secara bebas dan awut-awutan dengan pria mana pun juga; dilakukan dengan banyak lelaki.
 
Gadis-gadis Remaja, Tindak Immoril dan Pelacuran
    Definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah mereka yang berusia 10 sampai dengan 19 tahun dan belum menikah. Menurut Kaplan, 1997 usia remaja adalah dimulai pada usia 11 – 12 tahun dan berakhir pada usia 18 – 21 tahun. Dimana usia yang paling rentan dengan masalah seksual adalah pada massa usia 17 tahun. 
Perkembangan fisik yang terjadi pada remaja adalah perubahan yang sangat dramatis dalam bentuk dan ciri – ciri fisik berhubungan erat dengan mulainya pubertas. Aktivitas kelenjar pituitari pada saat ini berakibat dalam sekresi hormon yang meningkat, dengan efek fisiologis yang tersebar luas. Hormon pertumbuhan memproduksi dorongan pertumbuhan yang cepat, yang membawa tubuh mendekati tinggi dan dewasanya dalam sekitar dua tahun.
Dorongan pertumbuhan terjadi lebih awal pada pria dari pada pada wanita juga menandakan bahwa wanita lebih dahulu matang secara seksual dari pada pria. Pencapaian seksual pada gadis remaja ditandai dengan kehadiran menstruasi dan pada pria di tandai dengan produksi semen. Hormon – hormon utama yang mengatur perubahan ini adalah androgen pada pria dan estrogen pada wanita, yang juga membentuk ciri-ciri seksual sekunder. Hormon tertentu mulai berfungsi sejalan dengan perkembangan alat kelaminnya sehingga dapat menyebabkan rangsangan di dalam tubuh remaja yang seringkali menimbulkan masalah dalam perkembangan emosinya.
Perkembangan emosional juga terjadi pada masa remaja dan  masa remaja adalah masa stress emosional, yang timbul dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi pada masa pubertas. Hormon testosteron akan menyebabkan pria mengalami ereksi jika dia berfantasi atau terangsang, dan mempengaruhi otak untuk mengaktifkan pikiran atau dorongan seksual. Demikian juga pada wanita jika mengalami keterbangkitan seksual di tunjukkan vaginanya mengeluarkan cairan pelicin atau menjadi basah. Kondisi hormonal inilah yang menyebabkan remaja menjadi semakin peka terhadap stimulasi seksual sehingga munculnya perilaku seksual.
Dorongan seksual ini menimbulkan permasalah antara lain : a). Perasaan aneh karena muncul reaksi yang tidak begitu tampak pada masa sebelumnya, b). Belum dapat menyalurkan karena belum menikah sementara remaja cepat terangsang secar seksual, c). menimbulkan keinginan tahuan lebih lanjut tentang apakah alat kelamin yang dimilikinya dapat berfungsi dengan baik, kondisi ini dapat mendorong remaja untuk bereksplorasi banyak dalam hal seksual.
Perkembangan seksual yang terjadi pada remaja menunjukkan perubahan yang signifikan mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Perubahan seksual yang terjadi pada masa pubertas inilah yang bertanggung jawab atas adanya dorongan-dorongan seksual. Dorongan masalah seksual masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial sekaligus kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas.
Remaja cenderung lebih terbuka dalam menyelesaikan masalah dengan kelompoknya, hal ini karena adanya konflik atau perbedaan nilai yang dianut remaja dengan keluarga. Remaja adalah upaya remaja untuk diterima dan diakui sebagai orang dewasa, yang dikenal sebagai mencari identitas diri. Remaja selalu bertanya tentang siapa dan bagaimana dirinya dan cenderung melakukan berbagai tindakan untuk mengukuhnya identitas dirinya. Remaja masih labil sehingga upaya untuk mencari identitas diri , seringkali diungkapkan dalam bentuk pemaksaan kemauan, sehingga sering bertentangan dengan tokoh otoritere seperti orang tua atau guru. Pertentangan remaja dengan orang dewasa dipertajam lagi karena disatu pihak remaja menginginkan kebebasan melakukan aktivitas atau memilih teman dipihak lain orang tua dan guru justru ingin melakukan pembatasan. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya.
Peran orang tua dalam mendidik anak sangat menentukan pembentukan karakter dan perkembangan kepribadian anak. Komunikasi adalah inti suksesnya suatu hubungan antara orang tua dan remaja. Hubungan komunikasi secara lancar dan terbuka harus selalu dijaga agar dapat diketahui hal – hal yang diinginkan oleh remaja sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja. Pengetahuan remaja tentang Kesehatan Reproduksi yang dapat diperoleh dari hasil komunikasi antar keluaraga sangat penting terhadap perilaku yang berkaitan dengan hubungan seksual (intercourse) pranikah sehingga menghindari remaja untuk lebih memilih mendapat informasi dari media massa dan teman sebaya yang sering menimbulkan pemahaman yang salah oleh remaja atau informasi yang didapatkan menyesatkannya dan apada akhirnya menjerumuskan remaja dalam jurang kehancuran dengan melakukan tindak-tindak immoral seksual.
Statistik menunjukkan, bahwa kurang lebih 75% dari jumlah pelacur adalah wanita-wanita muda dibawah umur 30 tahun. Mereka itu pada umumnya memasuki dunia pelacuran pada usia yang muda, yaitu 13 – 14 tahun dan yang paling banyak ialah usia 17 – 21 tahun. Apakah sebabnya banyak gadis muda remaja tergelincir dalam lembah pelacuran demikian?
Tindak-tindak immoral seksual, berupa relasi seksual terang-terangan tanpa malu, sangat kasar, dan sangat provokatif dalamcoitus/bersanggama, dan dilakukan dengan banyak pria (promiskuitas) pada umumnya dilakukan oleh anak- anak gadis remaja penganut seks bebas. Adakalanya relasi seksual itu tidak dibayar, karena dilandasi motif-motif keisengan atau hyperseksualitas ataupun didorong oleh nafsu-nafsu seks yang tidak terintegrasi dan tidak wajar, tidak ubahnya dengan ciri-ciri praktik prostitusi yang kasar. Tindak immoral yang dilakukan oleh gadis-gadis muda itu khususnya disebabkan oleh:
a.    Kurang terkendalinya rem-rem psikis,
b.    Melemahnya sistem pengontrol diri,
c.    Belum atau kurangnya pembentukan karakter pada usia prapuber, usia puber adolesens,
d.    Melemahnya sistem pengontrol diri,
e.    Belum atau tidak adanya pembentukan karakter pada usia prapuber, usia puber, dan adolesens.
Pertama kali, immoralitas dilakukan dirumah oleh orang tua atau salah seorang anggota keluarga itu mempromosikan tingkah laku seksual abnormal kepada anak-anak puber dan adolesens. Sebab penghayatan langsung dari perbuatan seksual yang kasar, jika dibarengi dengan cumbu rayu dari laki-laki dewasa, akan mudah meruntuhkan pertahanan moral anak-anak gadis pada usia sangat mudah (12-19 tahun). Peristiwa ini kemudian mengakibatkan timbulnya seksualitas yang terlalu dini yaitu seksualitas yang terlampau cepat matang sebelum usia kemasakan psikis sebenarnya. Sebagai akibatnya ialah dengan kemunculan nafsu-nafsu seks yang luar biasa, namun anak gadis itu sendiri belum memiliki kematangan dan keseimbangan psikis, maka tindak-tindak immorilnya berlangsung secara liar dan tidak terkendali lagi.
Immoril seksual pada ank-anak gadis ini pada umumnya bukanlah didorong oleh motif-motif pemuasan nafsu nafsu seks seperti pada anak laki- laki umumnya. Akan tetapi, biasanya didorong oleh pemanjaan diri dan kompensasi terhadap labilitas kejiwaan, karena anak-anak gadis itu merasa tidak senang dan tidak puas atas kondisi diri sendiri dan situasi lingkungan. Rasa tidak puas anak-anak gadis itu antara lain disebabkan oleh:
a)  Menentang kewibawaan pendidik dan berkonflik dengan orang tua atau salah seorang anggota keluarga;
b)  Tidak mampu berprestasi di sekolah; konflik dengan kawan-kawan sekolah atau dengan guru;
c) Merasa tidak puas atas nasib sendiri, karena lingkunga rumah tangga yang buruk. Misalnya broken home, banyak konflik dan ketegangan, lingkunan yang tidak memberikan kehangatan dan kasih saying, selalu meraskan kekejaman dan tindak sewenang-wenang;
d)  Kekacauan kepribadian, mengalami disharmoni dan banyak konflik batin yang tidak bias diselesaikan;
e)    Memberontak terhadap semua bentuk otoritas dan mengikuti kemauan sendiri atau semau gue.
Kerap kali anak-anak puber dan adolesens itu secara tidak sadar dan tidak sengaja melakukan tindak immoral dan salah langkah, lalu menjadi pelacur melalui pengalaman sebagai berikut: Mula-mula, anak gadis tersebut menyalurkan dorongan-doronganseksual dengan jalan berfantas, mengkhayalkan gambaran-gambaran diri sendiri melakukan relasi seksual yang “menyala-nyala.” Lambat laun dorongan-dorongan seks itu jadi semakin memuncak, Karen macam-macam rancangan dari luar, misalnya membaca buku-buku cabul, melihat film porno dan orang lain bersetubuh, bujuk rayu pemuda-pemuda, dan lain-lain. Kemudian, secara coba-coba sambil bermain-main ia melakukan relasi seks dengan abang sendiri atau saudara yang lebih tua. Kemudian dicobanya dengan laki-laki lain hanya karena didorong oleh rasa ingin tahu (curiousity) dan coba-coba, just playing untuk main-main saja. Lama-kelamaan kanalisasi dengan jalan main-main ini menjadi sungguhan. Kemudian berlangsunglah pembentukan kebiasaan atau habit forming, lalu gadis tadi butuh melakukan relasi seks secara terus-menerus.
Selanjutnya, karena jiwa anak gadis itu belum stabil dan belum mencapai kematangan, relasi seksnya bebas lepas tidak bisa dikendalikan lagi. Dan tidak lama kemudian dia jatuh dalam lembah pelacuran, atau melakukan promiskuitas, menjalin relasi seks secara awut-awutan dengan siapapun juga. Di kota Bandung, gerombolan anak-anak gadis yang melakukan hubungan seks bebas, tanpa mengingat bayaran dan menanamkan kepuasan seks itu menamakan diri sebagai GONGLI atau bagong lieur(bagi atau celeng mabuk/pusing). Jadi, relasi seksual yang terlalu dini (cepat, pada usia terlalu muda) itu merupakan imitasi primitif, secara bermain-main menirukan tingkah laku orang dewasa, yang kemudian menjadi peristiwa kecanduan.
Adakalanya tindak immoral anak gadis melakukan praktik pelacuran itu distimulasi oleh Geltungstrieb atau dorongan untuk menuntut hak dan kompensasi, karena dia tidak pernah merasakan kehangatan, perhatian, dan kasih sayang orang tua atau familinya. Dicari kompensasi bagi kekosongan hatinya,  dengan jalan melakukan intervensi aktif dalam bentuk relasi seksual yang ekstrem tidak terkendali, alias pelacuran.
Ada pula anak-anak gadis yang melakukan tindak kompensatoris disebabkan oleh rasa-rasa takut dan kebimbangan. Biasanya mereka itu baru berumur 11 atau 12 tahun, namun mengaku sudah berusia 17 atau 18 tahun. Maka oleh nafsu petualangan dan ingin membanggakan diri, anak-anak itu sesumbar dan membual mampu memberikan layanan seksual yang hebat luar biasa, sebagai kompensasi dari kekerdilan dan rasa rendah diri. Lalu mereka melakukan praktik pelacuran.
Ringkasannya, sifat-sifat kurang baik anak-anak gadis, misalnya: pemanjaan diri, nafsu bersenang-senang tanpa kendali, “ijdelheid” atau kesombongan diri, lapar petualangan seks, gila hormat dan gila pujian,lemah mental terhadap cumbu rayu kaum pria, semua itu merangsang pergaulan yang bersifat netral menjadi hubungan seksual sungguhan. Tidak lama kemudian, anak-anak gadis itu terbiasa melakukan perbuatan-perbuatan immoral dengan banyak laki, tidak ubahnya dengan perilaku pelacur biasa.
Jelas, bahwa perbuatan seksual pada anak-anak puber itu pada umumnya disebabkan oleh disharmoni dalam kehidupan psikisnya, yang ditandai dengan:
a)    Bertumpuknya konflik-konflik batin,
b)    Kurangnya rem-rem terhadap nafsu-nafsu hewani,
c)    Kurang berfungsinya kemauan dan hati nurani,
d)     Kurang tajamnya intelek untuk mengendalikan nafsu seksual yang bergelora.
Karena itu, coitus atau sanggama bagi anak-anak puber dan adolesens itu merupakan perilaku menggugah nafsu-nafsu seksual yang terlalu dini, terlalu cepat, atau terlalu pagi. Kematangan seks yang terlalu cepat atau sebelum waktunya mengakibatkan terganggunya pembentukan karakterdan kepribadian sehingga kepribadiannya tetap berada pada tingkat primitive.Danlangkah untuk melakukan perbuatan-perbuatan immoral atau pelacuran semakin pendek.
Tingkah laku immoral dan eksperimen-eksperimen seksual yang tidak susila itu sangat infeksius sifatnya, mudah menjangkitkan infeksi psikis kepada anak-anak puber dan adolesens yang masih sangat labil struktur kepribadiannya. Pada akhirnya mudah mendorong mereka melakukan praktik pelacuran. Kesulitan-kesulitan emosional dan konflik-konflik batin serius yangmemuncak pada masa pubertas dan adolesens itu banyak dimuati oleh motif-motif sosial dan seksual. Bila gangguan ini kronisdan ekstrem atau memuncak, maka hal itu menstimulasi tingkah laku immoral dan promiscuous yang dekat sekali dengan pelacuran.
 

click Related        click Rate This        click Share
Topik Terkait

Berita


Pendidikan dan Pengembangan Kesos


Umum
News ©

Translate

Translation

Syndicate News

Survei

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan situs ini?

Sangat Baik
Baik
Biasa saja
Kurang Baik
Jelek



Hasil
Polling

Pemilih: 28
Komentar: 0

Tag

Kalender Kegiatan

<< December 2018 >>

S M T W T F S
            1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031         

Top 10 Download

;