Page 1 of 6 (31 total stories) [ 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | > | >> ]  

Dikirim oleh bbppksmakassar pada Saturday, 02 April 2016 (725 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

OLEH : IRMANSYAH, S.ST., M.Si 

WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REGIONAL V SULAWESI

 

RESTORATIVE JUSTICE

Di dalam praktek penegakan hukum pidana sering kali kita mendengar istilah Restorative Justice, atau Restorasi Justice yang dalam terjemahan bahasa Indonesia disebut dengan istilah restorasi keadilan. Restorative Justice mengandung pengertian yaitu"suatu pemulihan hubungan dan penebusan kesalahan yang ingin dilakukan oleh pelaku tindak pidana (keluarganya) terhadap korban tindak pidana tersebut (keluarganya) (upaya perdamaian) di luar pengadilan dengan maksud dan tujuan agar permasalahan hukum yang timbul akibat terjadinya perbuatan pidana tersebut dapat diselesaikan dengan baik dengan tercapainya persetujuan dan kesepakatan diantara para pihak". Restorative Justice pada prinsipnya merupakan suatu falsafah (pedoman dasar)  dalam proses perdamaian di luar peradilan dengan menggunakan cara mediasi atau musywarah dalam mencapai suatu keadilan yang diharapkan oleh para pihak yang terlibat dalam hukum pidana tersebut yaitu pelaku tindak pidana (keluarganya) dan korban tindak pidana (keluarganya) untuk mencari solusi terbaik yang disetujui dan disepakati para pihak. 

 Read More...

Dikirim oleh bbppksmakassar pada Wednesday, 20 January 2016 (323 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

OLEH : IRMANSYAH, S.ST., M.Si

WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REGIONAL SULAWESI

 

Reaksi Sosial

            Kenyataan membuktikan, bahwa semakin ditekan pelacuran, maka semakin luas menyebar prostitusi tersebut. Sikap reaktif dari masyarakat luas attau reaksi sosialnya bergantung pada empat faktor, yaitu :

a.    Derajat penampakan /visibilitas tingkah laku

b.     Besarnya pengaruh yang mendemoralisasi lingkungan sekitarnya

c.     Kronis tidaknya kompleks tersebut menjadi sumber penyakit kotor syphilis dangonorrhe, dan penyebab terjadinya abortus serta kematian bayi-bayi

d.    Pola kultural: adat-istiadat, norma-norma susila dan agama yang menentang pelacuran, yang sifatnya represif dan memaksakan

 Read More...

Dikirim oleh bbppksmakassar pada Monday, 16 November 2015 (500 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

OLEH : IRMANSYAH, S.ST., M.Si

WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REGIONAL SULAWESI

 

Motif-motif yang Melatarbelakangi Pelacuran

Isi pelacuran atau motif-motif yang melatarbelakangi tumbuhnya pelacuran pada wanita itu beraneka ragam. Dibawah ini disebutkan beberapa motif, antara lain sebagai berikut.

a.    Adanya kecenderungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesenangan melalui jalan pendek. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf, sehingga menghalalkan pelacuran.

b.  Ada nafsu-nafsu seks yang abnormal, tidak terintegrasi dalam kepribadian, dan keroyalan seks. Histeris dan hyperseks, sehingga tidak merasa puas mengadkan relasi seks dengan satu pria/suami.

c. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan,  ada pertimbangan-pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya dalam usaha mendapatkan status sosial yang lebih baik.

 Read More...

Dikirim oleh bbppksmakassar pada Thursday, 15 October 2015 (926 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

OLEH : IRMANSYAH, S.ST., M.Si

WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REGIONAL SULAWESI

Seks Bebas, Cinta Bebas, dan Pelacuran

             Hampir semua masyarakat beradap berpendapat bahwa perlu adanya regulasi atau pengaturan terhadap penyelenggaraan hubungan seks dengan peraturan-peraturan tertentu. Sebab, dorongan seks itu begitu dahsyat dan besar pengaruhnya terhadap manusia, bagaikan nyala api yang berkobar. Demikian pula seks, bisa membangun kepribadian, akan tetapi juga bisa menghancurkan sifat-sifat kemanusiaan. Hal ini dibuktikan oleh sejarah peradaban manusia sepanjang zaman. 

 Read More...

Dikirim oleh bbppksmakassar pada Monday, 21 September 2015 (745 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis
 

                              HINGGA KINI PROSTITUSI MASIH MARAK (Bagian 1)

 

                                                   Oleh : IRMANSYAH, S.ST., M.Si
 
                                  WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REG. V SULAWESI
 
          Latar Belakang
Pelacuran atau Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikan.
Prositusi mungkin terasa menyebalkan ketika akan dibahas karena dimasukkan sebagai penyakit masyarakat yang enggan orang membahasnya, terutama di negara kita, mayoritas penduduknya adalah Islam yang ajarannya menentang segala bentuk kemaksiatan termasuk prostitusi. Pada kenyataannya prostitusi menjadi ajang bisnis yang terus berkembang, baik yang praktiknya memang dipusatkan atau dengan sengaja dibuat lokalisasi, maupun prostitusi rumahan dikelola sendiri, yang tersebar di rumah penduduk dalam suatu desa.

 

 
 Read More...

Dikirim oleh bbppksmakassar pada Friday, 24 July 2015 (5272 kali dibaca)
BBPPKS MAKASSAR menulis

 PENYALAHGUNAAN NARKOBA DAN SEKS BEBAS

DI KALANGAN REMAJA DAN PELAJAR MERUPAKAN SALAH SATU MASALAH SOSIAL

Oleh : IRMANSYAH, S.ST., M.Si
WIDYAISWARA MUDA - BBPPKS REG. V SULAWESI
 
A. Pengertian Narkoba

                Narkoba merupakan singkatan dari (Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya). Terminologi narkoba familiar digunakan oleh aparat penegak hukum seperti polisi (termasuk didalamnya Badan Narkotika Nasional), jaksa, hakim dan petugas Pemasyarakatan. Selain narkoba, sebutan lain yang menunjuk pada ketiga zat tersebut adalah Napza yaitu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif.

 Read More...



Page 1 of 6 (31 total stories) [ 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | > | >> ]  

Translate

Translation

Syndicate News

Survei

Bagaimana pendapat anda tentang tampilan situs ini?

Sangat Baik
Baik
Biasa saja
Kurang Baik
Jelek



Hasil
Polling

Pemilih: 22
Komentar: 0

Tag

Kalender Kegiatan

<< August 2017 >>

S M T W T F S
    12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031   

Top 10 Download

;